Perlu Kolaborasi Multisektor Tangani Tuberkolosis di Indonesia

dr. Erlina Burhan



Redaksi9.com -  Indonesia merupakan negara terbesar kedua di dunia dengan kasus  tuberkulosis (TB)  dan mencapai 969.000 kasus atau 9,2 persen TB Global pada tahun 2021 menurut WHO Global Tuberculosis Report 2022. Hal itu diungkapkan, Dr. Erlina Burhan, dalam Media Workshop Nasional dengan tema "Menerapkan pendekatan One Health/Satu Kesehatan dalam Reportase Isu Kesehatan dan Pembangunan, secara virtual, Kamis (1/12)

Erlina menyebut, kinerja Indonesia tetap stagnan dalam tiga tahun terakhir.

"Pada tahun 2021, Indonesia menyumbang 13 persen kasus TB Global kedua setelah India dengan 24 persen kasus pada tahun yang sama. Angka Kematian TB juga meningkat secara signifikan dalam tiga tahun terakhir dengan 144.000 kematian akibat TB pada tahun 2021," ungkapnya.

Ironisnya, pada tahun 2021, sekitar 8.268 pasien didiagnosis TB.

Ia melihat, layanan pengobatan TB tetap tidak memadai untuk mengobati kasus baik untuk orang yang sudah memulai pengobatan maupun yang belum memulai pengobatan.

Erlina mengatakan, Indonesia telah berkomitmen untuk memenuhi target 3.3 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) untuk menghilangkan dan mengakhiri epidemi AIDS, TBC, Malaria, penyakit tropis terabaikan, hepatitis, penyakit yang ditularkan melalui air, dan penyakit menular lainnya.

Sementara,  untuk TB,  Indonesia telah menetapkan tujuan untuk menghilangkan TB pada tahun 2030 dan memiliki visi besar untuk bebas TB pada tahun 2050.

“Indonesia perlu bekerja keras. Ini bukan bisnis seperti biasa. Memberantas TB dan Memerangi TB Kebal Obat membutuhkan Aksi Multisektoral Bersatu,” jelas  Erlina.

Ia memaparkan, untuk mencapai target itu, Indonesia perlu vaksin baru. Kemudian, Obat Baru khusus untuk Infeksi TB Laten.  Selain itu,  Teknologi Diagnostik Baru dan Regimen obat dan obat baru.

Ia menegaskan, perlu tindakan kolaboratif yang melibatkan multisektor sangat dibutuhkan, termasukperan media. Ini adalah strategi utama bagi Indonesia untuk menghilangkan TB pada tahun 2030. Dengan kolaborasi, inovasi, intervensi, dan implementasi," kata Erlina.

“Poin penting lainnya adalah meningkatkan pendanaan untuk program pemberantasan TB,” imbuhnya.

Ia menyebut,  Indonesia telah membentuk kekuatan bersama bernama KOPI TB, yang menghimpun sejumlah organisasi profesi yang berkomitmen untuk memberantas TB di tingkat nasional, provinsi, regional, dan lokal melalui PPM TBC,” imbuhnya. (ira)

TAGS :

Komentar