Putri Koster Minta Perlu Diinventarisir Pakem Payas Bali di Masing-masing Dearah di Bali

Ny Putri Koster (Foto: hms)




Redaksi9.com - Payas Agung jangan dipakai sembarangan, harus sesuai dengan tempat dan waktunya. Payas yang dapat digunakan kapan saja adalah payas modern dan modifikasi. Payas agung jangan terlalu jauh dimodifikasi dan dikreasikan hingga merubah keasliannya. Demikian pesan Manggala Utama Paiketan Krama Istri (PAKIS) Bali, Ny. Putri Suastini Koster, saat Pelatihan Tata Busana Adat Payas Utama dan Payas Madya oleh PAKIS Bali, Anggara Paing Sungsang, 31 Mei 2022 bertempat di Gedung Majelis Desa Adat (MDA) Denpasar.

"Payas Agung Bali jangan diobral. Itu merupakan sesuatu yang tenget yang tidak bisa digunakan di sembarang waktu dan tempat. Oleh sebab itu kedepannya Pemerintah Provinsi Bali akan membuat kebijakan yang akan mengatur tata titi agem payas tradisional Bali ini," kata Putri Koster.

Ia menilai, kedepannya perlu payung hukum untuk mengatur tata payas Bali sebagai pedoman dalam payas Bali yang dilakukan oleh praktisi payas Bali maupun perias profesional. Pakem-pakem payas yang ada di masing-masing daerah harus diinventarisir.

Ia mengatakan, saat ini mayoritas masyarakat menggunakan payas agung Badung dan Denpasar, namun payas agung dari Kabupaten lain juga bukanlah tidak menarik, hanya perlu diperkenalkan dan disosialisasikan kembali seperti payas ningrat Buleleng maupun payas pengantin Bali dari Kabupaten yang lainnya.

"Perlu dibuatkan Fokus Group Discussion (FGD) untuk membahas kelangsungan pakem payas Bali ini yang selanjutnya hasil dari FGD tersebut menjadi dasar dibuatnya aturan atau kebijakan untuk mengatur pakem payas tradisional Bali yang ada di masing-masing daerah di Bali," kata Putri Koster.

Ia menegaskan, tugas PAKIS Bali sangat berkaitan dengan adat, tradisi, seni dan budaya Bali. Seperti yang kita ketahui saat ini terjadi penjajahan budaya Bali oleh budaya asing. Budaya Bali telah mulai kehilangan keaslian jati dirinya. Salah satunya adalah dalam hal tata rias pengantin Bali yang telah banyak mengalami moderinisasi dan modifikasi. Oleh karena itulah pelatihan tata busana adat payas utama dan payas madya ini dilakukan, untuk mengajegkan agem-ageman payas Bali agar tekek dan lestari.

Sementara, Bendesa Madya MDA Kota Denpasar, A.A. Ketut Sudiana menyampaikan, perjuangan Gubernur Bali serta Ny. Putri Koster dalam mempertahankan kelestarian budaya Bali harus didukung bersama demi Bali yang ajeg, metaksu dan bermartabat. "Jika bukan kita yang melestarikan budaya Bali lalu siapa lagi yang akan melestarikannya," kata Sudiana. (ira)

TAGS :

Komentar