Poltekes Denpasar Edukasi Siswi SMAN 1 Gianyar Waspadai Anemia pada Remaja Putri

Pelatihan penyusunan menu cegah anemia kepada pada para siswi SMAN 1 Gianyqr

Redaksi9.com - Anemia merupakan masalah gizi yang banyak terjadi pada remaja khususnya remaja putri. Anemia merupakan kelanjutan dampak dari kekurangan zat gizi makro (karbohidrat, protein, lemak) dan zat gizi mikro (vitamin, mineral).

Pada remaja putri, kebutuhan besi meningkat karena mengalami menstruasi/haid berkala yang mengeluarkan sejumlah zat besi setiap bulan.

Peningkatan kebutuhan jumlah total volume darah ini seringkali tidak diikuti dengan konsumsi zat besi yang adekuat, apalagi saat menginjak usia remaja putri cenderung ingin memiliki tubuh yang lebih langsing, sehingga sering melakukan berbagai usaha, di antaranya adalah melakukan diet ketat (Almatsier, 2010)

Anemia adalah suatu kondisi medis dimana kadar hemoglobin kurang dari normal. Kadar Hb normal pada remaja putri adalah >12 g/dl. Remaja putri dikatakan anemia jika kadar Hb<12 g/dl (Proverawati, 2011). Anemia ditandai dengan gejala letih, lesu, pucat, tidak bertenaga, kurang selera makan dan tangan dan kaki dingin.

Gejala-gejala tersebut harus segera diatasi agar tidak menimbulkan dampak yang lebih serius terhadap kualitas sumber daya manusia. Dampak anemia pada remaja antara lain menurunnya kemampuan dan konsentrasi belajar, mengganggu pertumbuhan, menurunkan kemampuan fisik, menurunkan daya tahan tubuh dan produktivitas kerja serta kebugaran yang menurun.(Savitri, dkk, 2015).

Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan di seluruh dunia terutama negara berkembang yang diperkirakan 30% penduduk dunia menderita anemia.Anemia banyak terjadi pada masyarakat terutama pada remaja dan ibu hamil.

Anemia pada remaja putri sampai saat ini masih cukup tinggi, menurut World Health Organization (WHO) 2013, prevalensi anemia dunia berkisar 40-88%. (WHO, 2013)

Menurut data Riset Kesehatan Dasar 2013, prevalensi anemia di Indonesia sebesar 21,7%, dengan sebaran proporsi sebanyak 20,6% di daerah perkotaan dan sebanyak 22,8% di pedesaan serta proporsi laki-laki sebesar 18,4% dan 23,9% perempuan.

Sedangkan berdasar kelompok umur, penderita anemia berumur 5-14 tahun sebesar 26,4% dan sebesar 18,4% pada kelompok umur 15-24 tahun.

Berdasarkan (Riskesdas, 2018) menunjukkan bahwa prevalensi anemia pada wanita usia subur (WUS) di Indonesia sebesar 23,7% dengan penderita anemia berumur 5-14 tahun sebesar 26,8%, penderita anemia berumur 15-24 tahun sebesar 32,0%, penderita anemia berumur 25-34 tahun sebesar 15,1% dan penderita anemia berumur 35-44 tahun sebesar 16,7%.

Prevalensi anemia pada wanita usia subur (WUS) di Bali berdasarkan hasil riskesdas tahun 2013 yaitu sebesar 10,8%. World Health Organization (WHO) menargetkan penurunan anemia pada tahun 2025 sebesar 50 persen pada wanita usia subur (WUS) berusia 15-49 tahun.

Keadaan Anemia pada remaja ini akan beresiko untuk melahirkan anak yang mengalami stunting.

Selain Anemia pada remaja putri, masalah yang dihadapi adalah Kurang Energi Kronis (KEK) yang beresiko juga melahirkan anak yang stunting.

Data yang ditemukan pada remaja di daerah Gianyar tahun 2019 pada saat melaksanakan pengabdian kepada masyarakat dengan mengukur tingkat pengetahuan remaja putri tentang Anemia dan KEK sebagai berikut.

Tingkat pengetahuan Remaja Putri tentang Anemia dan KEK sebelum dan setelah mendapatkan penyuluhan adalah  sebelum mendapat penyuluhan, sebagian besar Remaja Putri “kurang” memiliki pengetahuan tentang Anemia dan KEK yaitu  84%, “cukup” 14% dan “baik” 2% sedangkan setelah mendapatkan penyuluhan terjadi perubahan dimana kurang 16%, cukup 30% dan baik 54%.

Pengetahuan yang kurang ini akan mempengaruhi sikap remaja putri terhadap Anemia dan KEK sehingga dimasa mereka hamil cenderung akan mengalami Anemia dan KEK dan akan melahirkan bayi yang stunting.

Dengan penyuluhan gizi yang dilakukan belum cukup meningkatkan pengetahuan dan terutama sikap remaja terhadap factor resiko stunting tersebut, oleh karena itu pengabdi melakukan pelatihan penyusunan menu makanan anti anemia pada remaja putri yang ada di SMAN 1 Gianyar pada Juni 2021.

Metode yang digunakan untuk tercapainya tujuan pengabdian masyarakat ini adalah dengan melaksanakan pelatihan selama 4 kali pada 50 siswi SMAN 1 Gianyar. Pelatihan dilaksanakan oleh Tim dari Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan  Denpasar yang terdiri dari Ida Ayu Eka Padmiari, SKM.,M.Kes. Pande Putu Sri Sugiani, DCN.,M.Kes dan Dr. Ni Nengah Ariati, SST.,M.Erg. Pelatihan di awali dengan ceramah tentang Anemia dan cara menyusun menu makanan anti anemia kemduian dilanjutkan dengan praktek menyusun menu.

Setelah itu dilaksanakan praktek memasak menu makanan anti anemia yang sudah disusun oleh peserta.

Peserta sangat antusias mengikuti pelatihan ini, hal ini terlihat dari kehadiran mereka yang setiap hari saat pelatihan Hasil analisis pengetahuan dan ketrampilan menyusun menu makanan anti anemia menunjukkan peningkatan yang signifikan. Harapannya setelah melaksanakan pelatihan para siswi akan mempraktekkan menu tersebut di rumah masing-masing. (pad)

TAGS :

Komentar