Pernah Positif Covid-19 dan Dirawat, Komang Ajak Terapkan Pola Hidup Sehat

Komang Suparta


Redaksi9.com - Infeksi Covid-19 memang tidak selalu disertai komplikasi berat dan mematikan. Beberapa diantaranya hanya mengalami gejala ringan dan sedang, bahkan tanpa gejala. Namun, bukan berarti virus ini bisa diremehkan. Belakangan fenomena gejala berkepanjangan ini dikenal sebagai Long Covid. Ini membuktikan sekalipun pada beberapa orang hanya memicu gejala ringan sedang, tidak ada jamin berbagai keluhan tersebut akan hilang dalam 1-2 pekan. Hal ini juga yang dirasakan Komang Suparta, salah seorang yang pernah dirawat di RS Bali mandara karena positif Covid-19.

Lelaki yang keseharian ini bekerja sebagai jurnalis ini, menuturkan, awalnya ia merasaan gejala badan panas dan badan pegal-pegal. Kemudian, Ia sempat minum obat penurun panas. "Sempat saya minum obat penurun panas. Tapi seminggu panasnya belum turun, akhirnya ke dokter, dan disarankan tes antigen. Ternyata hasilnya positif Covid-19. Kemduian saya disarankan tes PCR, hasilnya positif juga," tutur lelaki usia 51 tahun ini.

Komang, begitu ia biasa disapa, akhirnya dirujuk ke RS Bali Mandara untuk mendapatkan perawatan. Dari anggota keluarganya, hanya anak lelakinya yang ikut terinfeksi positif tapi tidak bergejala sehingga hanya mengikuti isolasi di salah hotel di Denpasar.

Saat itu, Komang menuturkan, merasa sangat ketakutan karena dalam pikirannya, terkena virus ini bisa mengakibatkan kematian. Tiga hari awal dirawat di RS, ia masih berkutat melawan ketakutannya akan keganasan virus ini. "Syukurnya, dari penjelasan dokter, dijelaskan kalau tidak ada penyakit bawaan, tingkat kesembuhannya tinggi," kata Komang yang mengaku setelah itu, mulai agak tenang.

Saat menjalani perawatan di RS, selain diinfus ia diharuskan minum 15 jenis obat. Mulai dari obat antivirus, penurun panas, vitamin dll. "Saya sampai stres karena harus terus minum obat sebanyak itu," katanya.

Saat kunjungan dokter, ia selalu berusaha banyak bertanya. Tujuannya untuk memberikan dirinya sendiri semangat.
Seminggu kemudian, ia mengatakan mulai ada perubahan lebih baik. "Tapi dari tes PCR saya masih positif," kata Komang.

Dengan dirawat di RS, otomatis Komang diharuskan beristirahat total. Ia mengaku, kesempatan ini ia gunakan lebih banyak merenung. "Mungkin selama ini saya terlalu abai dan tidak disiplin 3 M, terutama sering lupa mencuci tangan. Disamping itu, saya juga kurang istirahat, kurang olahraga, dan suka tidur malam," tuturnya.

Dengan kejadian ini, ia mengaku menjadi sadar, akan pentingnya menjaga kesehatan tubuh. "Selama dirawat di RS, keluarga tidak bisa menjenguk, hanya dokter dan perawat khusus yang masuk ke ruangan dan itu pun memakai APD lengkap. Rasanya sedih sekali kalau ingat kenangan itu," kata Komang sembari menghela napas.

Makanya, kata dia, saat dirawat pun, ia melakukan olahraga ringan, sembari menenteng infus ia berjalan-jalan di dalam kamar. "Capek juga hanya tidur di ruangan ber-hari-hari," imbuhnya.

Ia mengatakan, waktu 16 hari opname di RS, telah memberi banyak perubahan pola hidup bagi Komang.
Setelah dinyatakan negatif tiga kali tes PCR, Komang diperbolehkan pulang dan menjalani isolasi mandiri di rumah seminggu lagi sebelum bisa beraktivitas kembali.

Kini, Komang rajin bangun pagi dan kemudian berolahraga jalan-jalan sekitar komplek rumahnya. Ia juga mempunyai hobi baru yakni berkebun. Sembari menanam pisang dan sayuran di belakang rumahnya, sekaligus ia berjemur sinar matahari.

Setelah enam bulan sembuh dari Covid-19, Komang mengaku, ada sesuatu yang dirasakan belum normal. "Kuping saya cepat sekali mendengung. Apalagi, kalau terima telepon lebih dari 10 menit. Makanya, saya ga penah mau nelepon lama-lama, " tuturnya.

Kondisi itu ia amati terus perkembangannya dan ia sempat sampaikan keluhan itu ke dokter. Dari penjelasan dokter, akhirnya ia mengerti bahwa Covid meninggalkan gejala yang berkepanjangan. "Dari penjelasan dokter, dengan berjalannya waktu, keluhan itu akan hilang, tapi semua perlu waktu. Ternyata, saya tanya teman yang pernah kena, juga mengalami hal sama seperti saya," kata Komang.

Ia menambahkan, pengalaman terkena Covid-19 ini telah membuatnya sadar, virus ini memang tidak selalu mematikan, tapi tidak bisa juga dianggap remeh. "Justru keluhan kuping sering mendengung ini juga sangat menganggu," kata Komang.

Dari sakit ini, ia juga mengerti, bahwa hanya dengan semangat tinggi membuat kita yakin sembuh.
"Jadi bagi yang terkena Covid dan dirawat, harus tetap semangat dan selalu positif thinking. Karena awalnya, saat saya dibawa ke RS Bali Mandara sudah ketakutan duluan. Untungnya, banyak teman yang memberi dukungan dan semangat, sehingga saya yakin bisa segera sembuh," ujarnya.

Komang juga berpesan, sebaiknya kita disiplin 3 M, memakai masker yang benar, sering mencuci tangan, dan menjaga jarak, serta tidak berkerumun agar kita terhindar dari penularan virus ini. "Yang paling penting, adalah melakukan vaksinasi. kebetulan saya sudah vaksin dua kali sehingga sudah lengkap. Walaupun sudah vaksin, kita juga hrus tetap disiplin protokol kesehatan," pesan Komang.

Menurut komang, untuk mengubah pola hidup ke arah yang lebih sehat, tidak harus terkena Covid dulu. "Alangkah baiknya, kita mencegah daripada mengobati. Jadi, jangan pernah anggap remeh virus ini, tetap disiplin prokes, walaupun sudah vaksin," kata Komang. (ira).


TAGS :

Komentar