Gubernur Koster Promosikan Arak Bali untuk Diekspor

Gubernur Koster juga sempat mencicipi kenikmatan arak Bali

Redaksi9.com - Gubernur Bali kembali mengeluarkan kebijakan pro Rakyat berbasis kearfian lokal dalam bentuk Peraturan Gubernur yang mengatur tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi Dan/Atau Destilasi Khas Bali, Rabu (4/2) di Kerta Sabha, Rumah Jabatan Gubernur Bali, Denpasar.

Peraturan Gubernur Bali Nomer 1 Tahun 2020 ini telah disetujui Kementerian Dalam Negeri; yang diundangkan pada hari Rabu (Buda Wage, Wuku Warigadean), tanggal 29 Januari tahun 2020.

Koster mengatakan, latar belakang dikeluarkannya Pergub ini, karena minuman fermentasi dan/atau destilasi Khas Bali sebagai salah satu sumber daya keragaman budaya Bali yang perlu dilindungi, dipelihara, dikembangkan dan dimanfaatkan untuk mendukung pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan dengan berbasis budaya sesuai dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali.

"Jepang punya sake, Korea punya soju, Bali juga punya arak. Kita harus promosikan minuman khas Bali ini ke dunia internasional," kata Koster yang disambut tepuk tangan para undangan yang hadir dalam peluncuran Pergub tersebut.

Ia menyebutkan, Pergub yang terdiri dari IX Bab dan 19 Pasal, bertujuan untuk memanfaatkan minuman fermentasi dan/atau destilasi khas Bali sebagai sumber daya ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan krama Bali.

"Pergub ini juga untuk melakukan penguatan dan pemberdayaan perajin bahan baku minuman fermentasi dan atau destilasi khas Bali," katanya dengan tegas.

Ruang lingkup Peraturan Gubernur ini, meliputi, pelindungan, pemeliharaan, dan pemanfaatan; kemitraan usaha; promosi dan Branding; pembinaan dan pengawasan, peran serta masyarakat,sanksi administratif, dan pendanaan.

Pelindungan, pemeliharaan, dan pemanfaatan minuman fermentasi dan/atau destilasi khas Bali meliputi:  Tuak Bali, Brem Bali, Arak Bali, Produk Artisanal, dan Brem /Arak Bali untuk Upacara Keagamaan.

Ia mengatakan, dalam proses pembuatan minuman fermentasi dan/atau destilasi khas Bali tidak menggunakan bahan baku dari alkohol.

Brem/Arak Bali untuk upacara keagamaan diberikan label warna merah bertuliskan hanya untuk keperluan upacara keagamaan.

Brem/Arak Bali dikemas dalam bentuk jerigen ukuran paling banyak 1 (satu) liter. Pemberian label dan pengkemasan dilakukan oleh koperasi.

Masyarakat yang melaksanakan upacara keagamaan dapat membeli Brem / Arak Bali paling banyak 5 (lima) liter dengan menunjukkan surat keterangan dari Bendesa Adat.

Pembelian Brem / Arak Bali dapat dilakukan pada distributor yang bekerjasama dengan koperasi.

Dalam arahannya, Koster mengatakan, minuman fermentasi dan/atau destilasi khas Bali dilarang dijual pada, remaja, pedagang kaki lima, penginapan, bumi perkemahan, tempat yang berdekatan dengan sarana peribadatan, lembaga pendidikan, lembaga pemerintahan dan fasilitas kesehatan.

"Minuman fermentasi khas Bali ini dilarang dijual kepada anak di bawah umur atau anak sekolah," tegasnya.

Ia mengajak, masyarakat dapat berperan serta dalam melakukan pengawasan terhadap distribusi minuman fermentasi khas Bali ini.

"Produsen yang melanggar ketentuan dikenakan sanksi aministratif Termasuk Perajin atau Koperasi yang melanggar ketentuan dikenakan sanksi aministratif," kata Gubernuŕ Koster.

Gubernur Koster juga menugaskan, kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan untuk mendata Perajin Tuak/ Brem/ Arak Bali di semua Kabupaten/Kota untuk melakukan pembinaan dan pengembangan produksi serta memberi dukungan fasilitas yang diperlukan.

Selain itu, ia juga meminta Kepala Dinas Koperasi dan UKM, Dinas Perindustrian dan Perdagangan untuk segera melakukan pendataan dan pembinaan Perajin dan Industri Tuak/ Brem/ Arak Bali dan Produk Artisanal di semua Kabupaten/Kota untuk meningkatkan produktivitas baik dari segi jumlah maupun kualitas produksi, aroma, rasa, branding, label, dan kemasan.

Perusda Bali juga diharapkan dapat mengembangkan kerjasama dengan Koperasi, distributor, dan sub distributor, serta kerjasama perdagangan dengan Pemerintah Daerah luar Bali dan ekspor.

"Saya akan mengajukan usulan kepada Dirjen Bea dan Cukai agar mendapat fasilitas bebas biaya untuk ekspor dan keringanan biaya untuk perdagangan lokal Bali atau insentif lainnya guna mendorong pengembangan industri minuman khas Bali ini," kata Koster. (ira).



TAGS :

Komentar