Keunikan Pura Pan Balang Tamak Nongan Karangasem

  • 26 Januari 2019
  • WITA

Redaksi9.com - Bendesa (Ketua) Desa Pakraman Nongan, Karangasem,  I Gusti Ngurah Wiryanata mengatakan keberadaan "Tari Rejang Pala dan Baris Kumbang" adalah salah satu tari sakral tempo dulu di Desa Nongan. Namun karena situasi dan kondisi perkembangan zaman, sehingga tari tersebut tidak pernah ditarikan lagi saat upacara di desa setempat. Bahkan keberadaannya kini nyaris punah.


"Semangat generasi muda, dan para seniman yang didukung krama Nongan, maka tarian sakral 'Rejang Pala dan Baris Kumbang' tersebut, kini sedang dilakukan rekonstruksi dalam upaya menyelamatkan seni dan budaya yang menjadi aset kebudayaan Desa Nongan," ujar Ngurah Wiryanata.


Ia mengatakan, Tari Rejang Pala dan Baris Kumbang adalah sebuah tari sakral pada zaman dahulu dipentaskan saat upacara Ngusaba Pala di Pura Balang Tamak Nongan (setiap Purnama Kawulu). Sehingga dari penuturan para tetua di desa setempat, tarian ini satu-satunya yang ada di Bali. Kemudian tarian ini tidak saja ditarikan saat pujawali (piodalan) di Pura Balang Tamak, tetapi juga dipentaskan setiap saat ada kegiatan ritual di Desa Nongan.


"Oleh karena itu, kami bersama para seniman dan krama Nongan bersemangat membangkitkan kembali Tari Pala dan Baris Kumbang tersebut untuk dilakukan direkonstruksi, sehingga ke depannya diharapkan setiap kegiatan ritual keagamaan bisa dipentaskan tarian itu," ujarnya.


Ngurah Wiryanata menuturkan, bahwa keberadaan Tari Rejang Pala dan Baris Kumbang sangat erat dengan keberadaan Desa Nongan sebagai daerah agraris dan perkebunan yang sangat subur. Pada zaman dahulu masyarakat petani di Nongan bercocok tanam (berkebun) dan berladang di sawah. Hasil perkebunan pun yang berlimpah-ruah, sehingga saat upacara "Ngusaba Pala" itulah dipersembahkan tarian sakral itu dipentaskan atas anugerah dan kemuliaan kepada alam semesta.


"Warga Nongan pun sebagai wujud bakti dan bersyukur kepada alam semesta (Ida Sang Hyang Widhi/Tuhan), saat upacara ritual di Desa Nongan zaman dahulu dipersembahkan tarian sakral Rejang Pala. Begitu juga tarian Baris Kumbang, mengindentikan sebuah tarian yang melambangkan kesuburan alam sebagai penghasil berbagai buah-buahan (pala) di Desa Nongan," ucapnya.


Sebuah tradisi unik dan sakral perang "Ketipat Pasil" di Pura Balang Tamak, Desa Pakraman Nongan, Kabupaten Karangasem, Bali pada "panglong pisan Purnama Kawulu" digelar saat panyineban upacara ngusaba di pura setempat.
Ritual perang "Ketipat Pasil" (ketupat basi) ini digelar setiap tahun sekali di Pura Balang Tamak Nongan. Dalam kegiatan tersebut "pengempon" pura itu sudah menyiapkan ketupat yang dibuat sebelum upacara ritual digelar. Sehingga keberadaan ketupat saat perang sudah sangat basi.


"Ketupat yang sudah basi ini nantinya akan dijadikan sarana perang 'Ketipat Pasil'. Dalam kegiatan ritual perang-perangan itu, layaknya ada dua kubu berbeda oleh warga setempat. Masing-masing kubu terlebih dahulu 'merampas' tipat pasil tersebut saat 'Ida Betara Sesunan' melakukan upacara 'malebar' di Jaba Tengah Pura Balang Tamak," ucap Jero Mangku Arya.


Ia menuturkan, setelah "Ida Betara Sesunan" Balang Tamak berajak dari prosesi upacara "malebar", kedua kubu bersiap-bersiap melakukan strategi perang "Ketipat Pasil". Kedua kubu itu pun saling serang dengan melemparkan ketupat basi tersebut ke lawan.
"Biasanya mereka saling serang hingga habisnya 'amunisi' ketupat basi tersebut. Bahkan ceceran ketupatan yang dijadikan sarana perang-perangan tersebut, warga pun menunggu untuk dipunggut kembali oleh warga pengempon pura yang selanjutkan akan disemaikan di kebun atau di ladang mereka. Dengan harapan berkah itu nantinya menjadi lebih subur dan bermanfaat," ujarnya.


Mangku Arya mengatakan ritual perang "Ketipat Pasil" sebagai ungkapan puji syukur atas anugerah Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) atas anugerah telah memberi kesuburan dan panen yang berlimpah di wilayah subak Pura Balang Tamak.
Keberadaan Pura Balang Tamak diempon sedikitnya tujuh subak di wilayah Desa Pakraman Nongan. Pura ini berada di Desa Nongan (sekitar 52 km arah timur laut Kota Denpasar atau tepatnya menuju Pura Agung Besakih dari arah Kota Klungkung).


Pura tersebut memiliki sejarah dan mitologi yang unik "Pan Balang Tamak". Sehingga berangkat dari mitos itu banyak para peneliti untuk tertarik melakukan riset mengenai keberadaan Balang Tamak. Bahkan saat ini tarian sakral yang berkaitan dengan keberadaan Pura Balang Tamak, yakni "Tari Rejang Pala dan Baris Kumbang" sedang dilakukan rekonstruksi sebagai tarian sakral untuk pelestarian budaya Bali. (kris)

 

 

Komentar