Diah Yuniti: Kenangan Radio Kecil

Diah Yuniti (tengah) bersama anggota Forkoperi Denpasar

 
Suka mendengarkan radio sejak kecil,  yang membuat Diah Yuniti mencintai Radio Republik Indonesia (RRI). Ia menuturkan,  radio pertama yang ada adalah RRI. Jadi, otomatis, dia hanya bisa mendengarkan RRI. Waktu ia kecil, ia mengatakan, ada namanya radio kecil. “Bukan  bentuk radionya yang kecil, tapi nama siarannya radio kecil yakni diperuntukkan segemen pendengar anak-anak. Ada cerita, dan wawancara anak-anak yang berprestasi, seni dan budaya yang dibawakan anak-anak sehingga pendengar khususnya anak-anak mendapatkan inspirasi dan motivasi.  Malah, ia mengaku, sampai  pernah diantar orangtuanya ke RRI hanya untuk melihat siapa penyiar radio kecil yang membuatnya terkagum-kagum. “Namanya Kak Dian, dan sekarang dia sudah pensiun.  Suaranya bagus sekali sangat  kebapakan, makanya saya senang sekali mendengarnya,” ujar Ketua Forum Komunikasi Pemerhati RRI (Forkoperi) Denpasar yang dilantik sejak 3 April 2017 dengan masa jabatan lima tahun ke depan.


Ia menuturkan, saat  ia kuliah, sebagai anak kos yang menjadi hiburan hanya  mendengarkan RRI. Yang paling ngetop waktu itu, kata dia, sandiwara radio “Butir-butir Pasir di Laut”. "Kalau tidak dapat mendengarkan kelanjutan sandiwara radio itu,  seperti ada yang kurang,” ujar dosen Universitas Ngurah Rai Denpasar ini.
.
Sampai saat ini, ia tetap mencintai RRI. Alasannya, RRI punya sejarah  di masa lalu sebagai radio  yang menyiarkan kemerdekaan Indonesia.
Selain itu, saat ini segmen  RRI juga sudah beraneka  ragam. Segmen dari  anak muda sampai  orang tua ada di RRI.
Pro 1 untuk berita umum, Pro 2 segmen anak muda bahkan termasuk penyiarnya anak muda. Pro 3 siaran dari Jakarta isinya lebih banyak berita yang up to date. Pro 4 seni budaya, menyiarkan semua kesenian lokal, seperti wirama, keroncong,  dll.  


Ia menegaskan, walaupun banyak ada media radio di luar RRI, ia mengaku tetap mencintai RRI karena memiliki banyak kelebihan.  Malah, kata dia, suara para penyiar senior RRI juga tak kalah dengan penyiar muda.  Ia sendiri yang sekarang mengisi acara setiap hari Senin  di Pro 1 belum mampu bisa menyamai suara penyiar RRI.


Saat ini RRI sudah menjadi lembaga Penyiaran Publik.  Ia berharap, RRI pintar-pintar mengelola anggaran  utnuk sarana dan prasarana. Ia melihat, antena juga saat ini perlu ditambah jaringannya.  Ia menilai,  siaran RRI Denpasar masih belum bisa dijangkau warga masyarakat di  beberapa daerah pelosok Bali.
Saat ini RRI juga sedang mengepankan teknologinya, seperti ada RRI Play, radio streaming, sehingga RRI tetap tidak ketinggalan zaman.  Untuk ke depan, ia berharap, perlu adanya regenerasi, karena SDM juga memegang peranan penting. (ira)

 

Komentar