Tips Sehat Jero Wiladja

Jero Wladja

Redaksi9.com - Semua orang pasti ingin sehat di masa hidupnya, walaupun usia sudah tua. Namun, tak mudah untuk mendapatkannya. Di usia dewasa muda saja, banyak dari kita yang sudah mengidap penyakit karena pola hidup yang tidak sehat. Sangat berbeda dengan perempuan sepuh ini. Namanya, Jero Wiladja, usianya  98 tahun dan masih dalam kondisi sehat walafiat.
Perempuan yang dipercaya memegang jabatan sebagai Ketua Legiun Veteran Kota Denpasar dan Ketua I Legiun Veteran Provinsi Bali ini terlihat sangat bersahaja.  Senyum yang manis  terukir dari bibirnya, ketika diajak sekadar mengobrol tentang resepnya agar  tetap sehat di usia senja.  “Saya ini tidak punya resep rahasia. Kuncinya, hanya satu, jalani hidup apa adanya. Ya,  seperti air mengalir saja,” kata perempuan yang semasa lajang bernama W.G. Sukarti ini.


Mencapai usia 98 tahun dan dalam kondisi sehat walafiat dan tidak menderita penyakit apapun, tentu merupakan karunia yang luar biasa. Sangat sulit mencapai kondisi seperti itu, di tengah gempuran aneka makanan siap saji. Bahkan, Jero Wiladja masih biasa beraktivitas setiap hari. “Saya tiap hari  masih ngantor di kantor veteran Jalan Surapati Denpasar. Kadang, saya juga menghadiri acara-acara, terutama bulan November banyak sekali acara untuk para veteran,” kata Jero Wiladja.
Menurut Jero Wiladja, ia mempunyai satu keyakinan, saat ikut terlibat dalam membantu para pejuang dalam perang mempertahankan kemerdekaan RI. “Saya selalu berprinsip, kalau tidak merdeka ya mati.  Tuhan sudah memberikan kemerdekaan ini, karena itu, saya selalu berdoa, agar diberi kesehatan  agar bisa mengisi kemerdekaan ini,” katanya.


Ada yang unik dikisahkan Jero Wiladja.  Ia rutin kontrol ke dokter untuk mengecek kesehatannya. Dokter mengatakan kepadanya, bahwa kondisinya sehat dan baik-baik saja. Namun, Jero Wiladja  meminta dokter menuliskan resep obat untuknya. Karuan saja dokternya tertawa, ibu ini sehat walafiat tidak perlu minum obat. Jero Wiladja malah berkilah, kalau obat tidak dapat, ya vitamin  kalau begitu. Kembali dokternya tertawa, jangan terlalu banyak minum obat, kata dokternya lagi.  Jero Wiladja malah berkilah, vitamin kan bukan obat dokter. Akhirnya, dokter memberikan vitamin untuk Jero Wiladja.   
Jero Wiladja memulai aktivitasnya mulai bangun pagi pukul 5.  Mulai dari ranjang ia sudah melakukan peregangan agar kaki dan tangannya tidak kaku. Kemudian, ia bangun dan melakukan olahraga ringan sebentar. Ia mengatakan, hanya sekadar jalan-jalan di sekeliling halaman rumahnya di Jalan Trijata, Denpasar. Kemudian, ia mandi, sembahyang, dan sarapan. “Untuk sarapan saya sangat simpel, cukup nasi putih dan telur ceplok. Minumnya teh,” katanya.
Kemudian ia siap berangkat ke kantor.  Saat ini, ia mendapat fasilitas diantar jemput dari kantor karena kondisinya yang sepuh. “Saya kalau kemana-mana selalu diantar-jemput dari kantor. Saya berterimakasih kepada pemerintah sangat peduli dengan para veteran,” ucapnya.


Untuk makan siang, kadang ia makan di kantor atau di rumah. “Saya sering menghadiri acara biasanya dapat makan siang,  cukup makan itu saja. Saat ini, memang saya tidak punya pantangan apa. Cuma untuk malam hari, saya mengurangi nasi putih, perbanyak sayur dan buah, banyak minum air putih, dan kurangi makan yang pedas karena usia sudah tua,” kata Jero Wiladja.


Bukan hanya soal makanan, ia juga selalu memperhatikan penampilannya. Untuk perawatan wajah, ia lakukan sebulan sekali.  “Saya sebulan sekali facial wajah dan  semir rambut. Menurut saya, penampilan itu harus tetap diperhatikan walaupun sudah tua. Karena itu berhubungan dengan kepercayaan diri dan kesehatan mental. Coba kalau wajahnya pucat dan kusam, terus rambutnya putih semua, bisa-bisa berpikir, waduh saya ini sudah tua banget dan kelihatan jelek seperti orang sakit,” ujarnya sembari tertawa. Baginya, dengan rutin melakukan perawatan, ia merasa dirinya terus sehat dan merasa percaya diri bersosialisasi dengan orang lain.


Sore hari hal utama yang dilakukan adalah membaca  koran. “Dengan baca koran, saya tahu pekembangan dunia. Disamping itu, dengan rutin membaca, akan merawat ingatan. Syukur sampai saat ini, ingatan saya sangat baik termasuk pendengaran. Cuma mata sudah pakai kaca karena minus dan plus,” ucapnya.


Selain memanfaatkan waktu dengan membaca koran,  ia juga suka bermain dengan cicit-cicitnya.  “Kebetulan saya tinggal bersama anak. Kalau tidak ada acara, saya bermain bersama kumpi (cicit),” ujarnya. Malam hari, pukul 21.00 ia sudah menuju tempat tidur beristirahat.


Saat ini, Jero Wiladja memegang ponsel yang tujuannya sebagai alat komunikasi yakni menelepon dan menerima telepon. “Saya tidak bisa main medsos. HP ini fungsinya hanya untuk nelepon dan terima telepon,” katanya.


Kemajuan teknologi di era sekarang, membuat jero  Wiladja takjub. Namun, karena sudah usia, ia mengatakan, tak ikut bermain medsos. “Cuma saya lihat anak-anak sekarang kok dari bangun pagi sudah bermain HP. Dimana-mana seperti itu. Semua kembali kepada keluarga. Jangan sampai  kita dijajah teknologi, harus cerdas memanfaatkan teknologi,” kata Jero Wiladja.

Mengenal Jero Wiladja
Jero Wiladja  merupakan wanita yang ikut membantu para pejuang dalam perang mempertahankan kemerdekaan Negara Indonesia. Hanya saja ia tidak ikut bertempur seperti kaum laki- laki,  perannya lebih banyak menjadi informan alias mata-mata pejuang RI yang sengaja menyusupi wilayah jajahan. Ia pun menjalani peran sebagai petugas kesehatan bagi para pemuda pejuang masa itu. Ia ikut di berbagai pertempuran, salah satunya waktu penjajahan  di Buleleng, dimana pasukan NICA baru saja mendarat di Buleleng.


Sukarti diikutkan bergerilya sebagai informan bagi para pejuang. Ia juga terkadang dipercaya mengemban tugas mengelabui musuh. Dengan cara berpura-pura mengendarai sepeda gayung bersama teman-temannya untuk mengalihkan perhatian serdadu penjajah yang sedang mengincar dua pemuda pejuang, Maruti dan Tanil. Tahun 1947 Sukarti dipindahkan sebagai pembantu sekretaris dan palang merah perwakilan MBU Sunda kecil di Buleleng yang dipimpin Wayan Noorai alias Pak Mangku. Hampir seluruh desa dan hutan di Buleleng telah dilaluinya  bersama MBU, ia ikut menyemangati kaum wanita perdesaan agar tetap menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. ( Ira)

 

Komentar