Jangan Abaikan Mendengkur

waspadai mendengkur

Redaksi9.com - Ngorok atau mendengkur merupakan hal biasa yang dilakukan sebagian orang saat tidur. Bagi para pendengkur, kondisi ini mungkin tidak mengganggu tidur Anda, namun mendengkur bisa sangat mengganggu orang lain saat tidur. Apakah mendengkur berbahaya?


Menurut dr. Ketut Widiyasa, MPH., ngorok atau mendengkur (snoring) adalah adanya bising napas saat tidur yang terjadi akibat adanya getaran jaringan longgar di jalan napas bagian atas. “Mendengkur adalah salah satu bagian dari sleep disordered breathing (SDB) atau gangguan napas saat tidur. Level SDB dari yang ringan berupa mendengkur  hingga yang berat disebut sebagai obstructive sleep apnea (OSA) atau adanya henti napas saat tidur. OSA inilah yang dapat menurunkan kualitas hidup dan berpotensi mengancam hidup bagi penderitanya,” jelas dokter RS Mata  Bali Mandara Provinsi Bali ini.
Ia mengatakan, mendengkur merupakan suara gaduh dari pernapasan yang terjadi selama proses tidur, akibat getaran yang dihasilkan dinding orofaring. “Walaupun terkesan sederhana, mendengkur dapat menjadi masalah sosial maupun masalah kesehatan. Dimana mendengkur merupakan salah satu gejala klinis yang khas dari gangguan pernapasaan saat tidur,” kata dr. Widiyasa.


Ia menyebutkan, kelebihan berat badan merupakan salah satu prediktor gangguan pernapasan saat tidur ( SDB).  Ia mengatakan, pengamatan klinis dan studi populasi di seluruh populasi Amerika Serikat, Eropa, Asia, dan Australia secara konsisten menunjukkan peningkatan prevalensi SDB berhubungan dengan peningkatan Indeks Massa Tubuh (IMT) dan lingkar leher. Lingkar leher dapat menjadi metode pengukuran yang mudah dan murah untuk skrining individu dengan obesitas,  lingkar leher ≥37 cm untuk laki-laki dan ≥34 cm untuk wanita merupakan cutt of point yang paling tepat untuk mengidentifikasi individu dengan IMT ≥25 kg/m2.  Mendengkur merupakan fenomena yang biasa, dengan prevalensi yang dilaporkan bervariasi dari 15-60% dari populasi orang dewasa.


Pada tahun 2003 di Amerika Serikat, berdasarkan usia (termasuk pada anak-anak), jenis kelamin, dan distribusi IMT, diperkirakan sekitar 17% orang dewasa usia 30-69 tahun mengalami SDB yang ringan. Sekitar 41% diantaranya memiliki Indeks Massa Tubuh ≥25 kg/m2. Sekitar 5,7% orang dewasa mengalami SDB sedang dengan 58% diantaranya memiliki berat badan yang berlebihan. “Orang yang memiliki riwayat mendengkur mempunyai risiko komplikasi OSA lebih tinggi,” kata dr. Widiyasa.


Ia menyatakan, jika mendengkur tidak diberikan penanganan yang kuat, maka akan jatuh kepada derajat yang lebih berat yang disebut  obsrtuctive sleep apnea (OSA).  Gejala-gejala yang ditemukan pada penderita OSA ini dapat dibedakan menjadi dua yaitu gejala pada malam hari dan gejala pada pagi hari. Gejala pada malam hari adalah mendengkur, biasanya keras, dan mengganggu orang lain,  mendengkur dan diakhiri dengan mendengus, sambil terengah-engah dan tersedak yang menimbulkan sensasi pasien dari tidur gelisah. Sedangkan gejala yang ditemukan pada pagi hari adalah tidak merasa segar saat bangun, sakit kepala,  sakit atau rasa kering di tenggorokan, mengantuk saat aktivitas yang memerlukan kewaspadaan umum (misalnya, sekolah, bekerja, mengemudi),  kelelahan: letih, kurang memiliki energi, masalah dengan memori, konsentrasi, dan fungsi kognitif.


Faktor risiko sering terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan. OSA lebih sering terjadi pada usia 40-60 tahun ke atas, tapi pada anak-anak juga dapat terjadi. Ada riwayat OSA dalam keluarga dan kegemukan.  


“Lingkar leher di atas 43 cm pada laki-laki meningkatkan risiko mendengkur.  Orang yang merokok lebih dari 2 bungkus sehari memiliki risiko 40 kali lebih besar dibanding dengan bukan perokok. Minum alkohol juga dapat berhubungan dengan mendengkur,” ucapnya. (ira)

 

Komentar