Strategi Caleg Perempuan di Pemilu 2019

Diah Yuniti

Redaksi9.com - Dalam Pemilu 2019, para calon legislatif (caleg) dinilai akan mendapatkan persiangan  yang sangat ketat. Tentu saja karena banyak hal yang berbeda dengan Pemilu 2014, terutama  cara mendapatkan kursi suara. Kalau hitung-hitungan, persaingan sangat luar biasa, terutama bagi perempuan. Hal itu diungkapkan IGA Diah Yuniti, dari LSM Bali Sruti.
Ia menilai, perempuan yang sudah masuk DCT, belum maksimal menyerap suara. Alasannya, banyak perempuan yang asal comot untuk memenuhi quota 30% perempuan.


Ia menegaskan, perempuan harus punya strategi. “Strategi bagi perempuan, tidak bisa berdiri sendiri harus bergandengan misalnya para calaeg kabupaten/kota bergandengan dengan caleg provinsi. Yang punya massa para caleg kabupaten/kota dan  caleg provinsi mungkin bisa mendukung dari segi  dana saat turun ke lapangan,” ujarnya.


Namun, ia melihat banyak caleg yang pindah partai sehingga hal ini juga membuat mereka belum memiliki basis yang kuat.  Namun, kata dia, tidak  menutup kemungkinan juga bagi caleg yang pindah partai mempunyai basis massa yang loyal, tergantung  strategi mereka.


Ia menyarankan, sebaiknya jangan antar sesama partai merebut suara, misalnya,  jangan berebut di satu kantung suara sehingga terjadi gontok-gontokan di internal partai.


Ia menambahkan, perempuan harus bisa memetakan suara. Bagi perempuan yang memang dari hati nuraninya memang ingin maju ke politik, harusnya sudah siap dengan pemetaan ini. Misalnya, caleg Denpasar Dapil Densel. Dia sudah tahu kursi ada berapa, incumbent siapa saja, dia akan mendapatkan suara dari mana? Ini yang harus diketahui para caleg.

Strategi lain, kata Diah Yuniti, caleg juga tidak bisa kerja sendiri. Ia harus punya semacam juru kampanye. Memang ini membutuhkan dana, tapi kalau punya strategi yang bagus, soal dana bisa juga ditekan. Paling  tidak, caleg tersebut mengenal karakter wilayah dimana ia akan mendapatkan suara. Artinya, dia harus berbaur dan berbuat jauh-jauh hari. Bukan hanya ujug-ujug saat akan nyalon baru datang, apalagi tiba-tiba menjadi donatur.  “Para caleg perempuan harus mempunyai strategi yang baik dengan pemetaan yang baik pula. Jika  secara logika dan hitung-hitungan akan susah mendapatkan suara, lebih baik bekerja dulu untuk maju lima tahun ke depan. Inilah pentingnya investasi politik,” kata mantan anggota KPU Kota Denpasar ini.


Ia menegaskan, jangan hanya berpikir, yang penting maju, soal menang atau kalah urusan belakangan yang penting quota 30 % perempuan terpenuhi.  Ironisnya, kadang ada caleg yang sudah melakukan pemetaan dengan baik, namun, karena satu hal di partai, ia terlempar. Hal inilah yang sering terjadi.
Ia berharap, para caleg terutama perempuan, sebaiknya melakukan komunikasi yang baik dengan internal partai, karena wakil rakyat adalah penugasan partai, karena partai adalah peserta pemilu bukan perseorangan, jadi komunikasi dengan partai sangatlah penting. (ira)

 

Komentar