Mengenal Gangguan Bipolar

-

Redaksi9.com - Bagi Anisa perbuatan suaminya sudah tak dapat dimaafkan lagi, bayangkan setahun ini dia sudah lebih dari lima kali selingkuh, dengan berbagai tipe wanita. Setiap kepergok, dengan sepenuh hati suaminya akan meminta-minta maaf sembari berjanji untuk setia dan tak lagi mengulangi perbuatannya. Hati Anisa luluh setelah suaminya membelikan beberapa perhiasan baru yang memang telah lama diidam-idamkannya. Selama ini suaminya memang seorang pekerja keras, ada saja idenya untuk memulai dan membuka usaha baru. Pikirannya cemerlang, sikapnya baik dan ramah, hampir semua orang suka kepadanya - termasuk wanita-wanita muda yang akhirnya jadi teman selingkuhannya.

Kisah  yang dialami Anisa merupakan permasalahan yang banyak dialami mereka yang memiliki pasangan yang menderita gangguan bipolar.  Apa itu gangguan bipolar?


Menurut dr. Lely Setyawati, Sp.KJ(K) gangguan bipolar ditandai perubahan mood yang parah antara manik dan depresi. Setidaknya ada tiga varian Gangguan Bipolar yang kita kenal, yaitu Gangguan Bipolar tipe I, Gangguan Bipolar tipe II, dan Gangguan Siklotimik.
“Ciri penting dari Gangguan Bipolar tipe I adalah adanya riwayat depresi dan manik yang dialami pasien. Selama ini kita lebih familiar dengan istilah depresi, suatu perasaan sedih dan putus asa yang berkepanjangan, yang seringkali berdampak terjadinya bunuh diri,” ujar dr. Lely di sela-sela gathering penderita depresi dan bipolar pekan lalu.


Ia menyebutkan,  gejala penting dari gangguan depresi adalah mood depresi  atau kehilangan minat dan kegembiraan untuk kegiatan yang telah biasa dijalaninya. Semua gejala harus ada hampir setiap hari, kecuali keinginan bunuh diri atau pikiran tentang kematian, yang hanya muncul sesekali dan berulang saat gejala depresinya datang kembali.  Diagnosis dikecualikan jika gejala merupakan suasana berkabung yang normal, atau jika terdapat gejala psikotik bersamaan dengan adanya gangguan mood tersebut.


Ia menyatakan, kejadian depresi cukup banyak di masyarakat Indonesia, berkisar antara 10-20% populasi.

Terdapat 10 gejala yang dapat dipakai sebagai acuan apakah seseorang sedang mengalami depresi, yaitu apabila selama minimal dua minggu terakhir mengalami gejala utama, secara terus menerus merasa sedih atau murung hampir sepanjang hari, hampir setiap hari. Kurang berminat terhadap banyak hal atau kurang bisa menikmati hal-hal yang biasanya kita nikmati. Merasa lelah atau tidak bertenaga, hampir sepanjang waktu.


Gejala tambahan, perubahan nafsu makan, sehingga berat badan meningkat atau menurun tanpa upaya yang disengaja. Mengalami kesulitan tidur hampir setiap malam (kesulitan untuk mulai tidur, terbangun tengah malam atau terbangun lebih dini, atau tidur berlebihan). Berbicara atau bergerak lebih lambat daripadabiasanya, gelisah, tidak tenang atau mengalami kesulitan untuk tetap diam.  Kehilangan kepercayaan diri, merasa tak  berharga atau bahkan lebih rendah daripada orang lain. Merasa bersalah atau mempersalahkan diri sendiri. Kesulitan berpikir atau berkonsentrasi, sulit untuk mengambil keputusan. Berniat untuk menyakiti diri sendiri, ingin bunuh diri atau berharap untuk mati. “Jika terdapat minimal dua gejala di kelompok utama dan dua gejala di tambahan berarti memang benar Anda sedang mengalami depresi. Segeralah mencari pengobatan, dengan berkonsultasi pada psikiater terdekat,” sarannya dokter Ahli Jiwa RS Sanglah ini.

Kondisi yang berlawanan dengan depresi di atas adalah episode manik, dimana seseorang sangat bersemangat, tak kenal lelah, seperti perangkat elektronik yang baru selesai di-charge. Gejala manik dapat dilihat dari ada tidaknya dua  gejala  atau salah satu atau keduanya terpenuhi. Merasa sangat bersemangat atau penuh tenaga atau sangat bangga dengan diri sendiri, sehingga menyulitkan diri sendiri, atau orang lain berpendapat bahwaanda bukan diri anda yangbiasanya. Sangat mudah tersinggung, sehingga suka berteriak dan memulai suatu perkelahian atau pertengkaran.

Selanjutnya terdapat minimal tiga gejala manic, seperti  terdorong untuk melakukan aktivitas fisik, tidak bisa duduk diam. Berbicara tanpa henti atau sedemikian cepatnya sehingga orang lain tidak memahami anda. Pikiran mengalir sedemikian cepat sehingga anda kesulitan mengikutinya. Menjadi sedemikian aktif sehingga teman atau keluarga menjadi khawatir tentang anda. Kebutuhan tidur kurang dibanding biasanya. Merasa mampu melakukan hal-hal yang orang lain tidak mampu, atau merasa sebagai seorang yang sangat penting. Mudah teralih perhatiannya.

Sangat ingin terlibat di dalam kegiatan yang menyenangkan sehingga mengabaikan risikonya (misalnya: berfoya-foya, belanja berlebihan, ngebut, atau berbagai aktivitas ekstrim lainnya). Memiliki minat seksual yang tinggi sehingga melakukan aktivitas seksual yang tidak lazim. Permasalahan ini dapat mengganggu pekerjaan atau aktivitas sosial pasien atau membuatnya dirawat inap di rumah sakit.


Menurut dr. Lely, pasien  dengan episode Manik, karena begitu ekstrimnya gejala yang diperlihatkan, tidak semua rumah sakit mau menerima dan melayani pasien-pasien semacam ini. Tanpa disadari seringkali perawat dan dokter jaga di UGD mempersilahkan pasien segera dibawa ke RS Jiwa. Untungnya bagi mereka yang tinggal di wilayah Denpasar dan sekitarnya tak perlu harus jauh-jauh menempuh perjalanan ke RS Jiwa, karena RS Sanglah bersedia merawat pasien-pasien yang mengalami episode manik ini.Mereka dipersilahkan datang ke poli Jiwa, atau dalam kondisi darurat dapat langsung ke UGD yang buka 24 jam.


Ia mengatakan, pengobatan untuk Gangguan Bipolar sampai hari ini dapat dikatakan cukup berhasil, asalkan pasien mau bekerjasama dengan terapis dan bersedia menjalani program terapi yang telah disepakati. Obat yang dipakai adalah kombinasi antara antipsikotik dan mood stabilizer, yang harus diminum secara teratur untuk waktu minimal 6 bulan. Setelah itu dokter akan memutuskan apakah obat-obat tersebut dapat diturunkan dosisnya, diberhentikan, atau justru harus tetap dipertahankan. Selain terapi dengan obat-obatan masih ada dua jenis terapi lagi yang harus dijalani oleh pasien Bipolar, yaitu psikoterapi dan terapi lingkungan.


“Tujuan dari psikoterapi adalah untuk meningkatkan daya tahan dan kematangan ego seseorang, agar nantinya saat menghadapi berbagai masalah atau stres kehidupan, dia mampu bertahan dan tidak lagi jatuh sakit,” jelasnya.


Terapi lingkungan dapat dikerjakan bersama-sama dengan keluarga dan orang terdekat pasien, bertujuan untuk memberikan dukungan dan semangat agar segera bangkit dan melanjutkan hidup dengan percaya diri. Terapi kelompok dengan menghadirkan mereka yang pernah mengalami gangguan yang sama diharapkan akan saling menguatkan pasien, bahwa mereka tak sendiri menghadapi berbagai masalah hidup. Masih banyak orang-orang di sekitarnya yang juga mengalami hal yang sama, atau bahkan lebih buruk dari yang pernah mereka alami.

 

Komentar