Beban Puncak Listrik Nataru 920 MW

GM PLN Unit Induk Distribusi Bali memaparkan kondisi listrik di Bali saat media gathering


Redaksi9com - Beban puncak listrik di Bali diperkirakan sekitar 920 MW, saat Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2020. Demikian disampaikan, General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Bali Nyoman Suwarjoni Astawa, saat media gathering di Puri Santrian, Sanur, Senin (23/12).

"Puncak listrik saat Nataru lebih rendah daripada beban puncak yang pernah diraih PLN karena kantor-kantor sudah mulai tutup. Beban puncak biasanya 90 persen dari beban puncak yang pernah diraih. Jadi, pada Nataru kami perkirakan tidak akan lebih dari 920 MW,” ujar Astawa.

Ia menilai, saat tahun baru masyarakat cenderung menikmati suasana di luar hotel seperti di ruang terbuka. Sementara pada Natal, masyarakat Nasrasi merayakannya di gereja, sehingga pemakaian listrik di rumah tangga turun.

Bahkan, kata dia, untuk seluruh sistem kelistrikan Jawa Bali bebannya turun 20-25 persen. “Cuaca memang panas, tapi sudah mulai mendung. Kalau pun panas, kami melihat tidak akan mencapai beban puncak yang  diraih pada 6 Desember lalu, yaitu  966 MW,” imbuh Astawa.

Tahun 2020 beban puncak diperkirakan lebih dari 1.000 MW. Karena rata-rata beban puncak setiap tahun naik sekitar 4 persen. Tahun depan beban puncak diprediksi naik 40-50 MW.

PLN berupaya menambah kapasitas pembangkit–pembangkit non-BBM menjadi gas sebelum JBC dibangun. PLN juga berencana menambah kapasitas pembangkit sebesar 200 MW pada 2021 sebesar 100 dan 100 MW lagi tahun 2022 sembari menunggu Jawa Bali Conection (JBC) rampung tahun 2024. Dengan mundurnya pembangunan JBC, maka ada ancaman krisis listrik di Balii.
Ia mengatakan, dengan mundurnya pembangunan JBC, dikhawatirkan akan ada krisis listrik. Namun, PLN sudah mengantisipasi dengan menambah pembangkit 200 MW dalam kurun waktu 2 tahun.

Menurutnya, pembangkit 200 MW hanya sementara sebelum JBC. Setelah itu akan di lihat nanti, mau bangun membangkit di Jawa atau di Bali.

"Selaras dengan program Gubernur Bali, mandiri energi, maka pembangkit diharapkan dapat dibangun di Bali,” katanya.

Astawa berharap kontrak kerja sama jual beli energi listrik 25 MW x 2 di Bali timur dan Bali selatan bisa ditandatangani pada 2020, Gardu Induk (GI) Tanah Lot bisa beroperasi dan semester I 2020 desain Jawa Bali Conection (JBC) selesai.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga memaparkan, pendapatan listrik yang dikelola PLN Unit Induk Distribusi Bali saat ini masih didominasi dari wilayah Bali Selatan.

“Dari total pendapatan hingga November 2019 yang mencapai Rp 6,2 triliun, sebesar Rp4,9 triliun diperoleh dari Bali Selatan,” kata Astawa.
Dua wilayah lainnya yakni Bali Timur memberi kontribusi Rp1,025 triliun sedangkan Bali Barat hanya Rp 625 miliar lebih. Bali Selatan memberi pendapatan paling besar karena didukung industri pariwisata serta berbagai kegiatan ekonomi lainnya. Diprediksi tahun 2019 ini pendapatan dari penjualan listrik mencapai Rp7,2 triliun.

Dikatakan dari total pelanggan seluruhnya 1.459.587, terbanyak adalah rumah tangga (RT) yakni 1.205.823 dengan pemasukan Rp2,709 triliun. Sedangkan pelanggan bisnis jumlahnya 162.229. Namun dari segi penghasilan paling tinggi yakni Rp3,122 triliun.

Astawa mengatakan, penggunaan listrik 2019 diakui pertumbuhannya cukup tinggi yakni 11 persen sebagai dampak pengaruh cuaca yang cukup panas. Tahun 2018 pertumbuhan hanya 3 persen dan 2017 bahkan minus 1 persen.

Astawa menambahkan hingga Desember 2019 ini, ada peningkatan 70 ribu pelanggan baru. Meski demikian, diakui masih ada warga yang belum memiliki listrik sendiri alias masih numpang di keluarga atau tetangga. (ira).


TAGS :

Komentar