Menjaga Ekologi Bali dari Perspektif Sastra Kuna

Rembug Sastra Purnama Badrawada edisi Purnama Kaulu di Pura Jagatnata Denpasar, Minggu (20/1

Redaksi9.com - Rembug Sastra Purnama Badrawada edisi Purnama Kaulu di Pura Jagatnata Denpasar, Minggu (20/1) mendiskusikan hubungan sastra kuna dan ekologi. Sebagai pembicara adalah dosen Prodi Sastra Bali, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud), Putu Eka Guna Yasa, SS, M.Hum dan alumnus Prodi Sastra Jawa Kuno FIB Unud, I Ketut Eriadi Ariana,SS.

 

Dalam makalah berjudul “Menjaga Air dari Hulu sampai Hilir: Sumbangan Sastra Kuna untuk Generasi Kini”,  Guna Yasa menjelaskan bagaimana sastra-sastra kuna memberikan penghormatan terhadap air. Berbagai pemaknaan diterangkan para pujangga pada masa silam dalam karya-karya sastranya, mulai dari air sebagai simbol kemakmuran hingga air yang berada di dalam diri manusia (sarira; bhuwana alit).


“Adi Parwa (bagian pertama Asta Dasa Parwa atau Mahaabarata Jawa Kuna, red) menarasikan ketika amreta didapatkan oleh dewa dan raksasa, amreta kemudian disembunyikan di Gunung Somaka Giri. Fragmen itu menjadi simbolisme yang penting, sebab secara natural amreta di gunung itu akan muncul melalui danau dan air,” kata pemuda asal Selat Tengah, Susut, Bangli ini.
Di Bali, keberadaan konsep ini semakin jelas dengan keberadaan empat danau di Bali yang semuanya berada di kawasan pegunungan. Air inilah yang kemudian mengalir menjadi amreta ke seluruh pelosok Balidwipa.


Selanjutnya teks Tantu Panggelaran ada menceritakan prilaku Sang Hyang Teken Wuwung yang tinggal di hulu sungai telah mencemari sungai dengan kotoran. Akibat ulahnya, Sang Hyang Iswara yang tinggal di hilir sungai kemudian mengutuknya, sehingga air yang telah kotor itu berbaik mengejarnya.
“Sungai sebagai wujud aliran air pada masa kuno juga merupakan poros peradaban. Di Bali peradaban sungai dapat dilihat di DAS Pakerisan yang banyak meninggalkan tinggalan kuno. Tinggalan ini bisa menjadi semangat untuk merevitalisasi sungai-sungai di Bali,” katanya dalam rembug yang dimoderatori sastrawan muda, Agus Darma Putra.


Ramayana sebagai sastra adiluhung juga memberikan pesan menjaga laut. Ketika Rama hendak mengeringkan laut untuk mencapai Alengka dengan cepat, ia disadarkan bahwa langkahnya untuk menyenangkan diri pribadi dapat membuat alam menderita. Maka hal ini secara kontekstual turut menyumbangkan landasan mengelola laut Bali di tengah terpaan pariwisata yang semakin menggeliat. “Para penekun tantris juga menyimbolkan air dalam tubuh. Mereka mengenal adanya danau-danau di otak, sungai-sungai, juga laut di tubuh. Jika unsur-unsur alam berada dalam diri, masihkan kita ingin mengotori air sebagai penyangga kehidupan?” tutupnya.


Sementara itu, dalam makalahnya yang berjudul “Narasi-Narasi Ekologi dari Balik Bukit: Sebuah Catatan Pinggir”, Eriadi Ariana mencoba mengulas bagaimana tradisi sastra tulis dan sastra lisan Bali turut serta mengarahkan pembaca dan penghayatnya untuk lebih menghargai lingkungan. Teks-teks seperti Usana Bali dan Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul pada dasarnya berupaya mewujudkan Tuhan dalam bentuk fisik sebagai gunung-gunung dan perbukitan. Maka, menjaga wujud fisik itu sesungguhnya merupakan sebuah yadnya yang jauh lebih penting.


“Namun saat ini kecenderungannya masyarakat Bali hanya terfokus pada ritus, bukan menilai ritual itu dalam tataran pemaknaan. Salah satu yang nyata, belum lama ini gerakan umat di kawasan Gunung Lempuyang membuktikan bahwa masih banyak masyarakat ketika bersembahyang ke kawasan suci juga membuang sampahnya di kawasan tersebut,” jelasnya.
Sementara itu, tuturan lisan yang hingga saat ini banyak hidup dari kawasan pegunungan Bali juga mengetengahkan hal senada. Sebagai contoh mitos Ida Ratu Ayu Mas Membah menyatakan bahwa masyarakat Bali berkewajiban menjaga kawasan Kaldera Batur, khususnya Danau Batur sebagai salah satu sumber air pentiing di Bali. Proses menjaga itu saat ini juga diwujudkan dalam berbagai bentuk berbagai ritual yang turut melibatkan berbagai elemen subak.


Di tengah pelaksanaan ritual-ritual menjaga air Danau Batur, saat ini Danau Batur (dan danau-danau lainnya di Bali) justru tercemar. Puncak Gunung Batur yang dimitoskan sebagai lingga suci Hyang Dewi Danuh juga tengah mengalami proses “perataan” guna memenuhi kebutuhan pariwisata. “Kondisi ini merupakan bentuk pengingkaran kita pada sistem kepercayaan yang dibangun leluhur terdahulu dan masih kita lakoni hingga kini dalam bentuk pelaksanaan keagamaan. Di satu sisi masyarakat Bali menyatakan itu kawasan suci, tapi pada sisi lainnya juga merenggut kesuciannya,” jelas pemuda asal Batur, Kintamani, Bangli itu.


Terkait dengan fenomena-fenomena tersebut, pengamat budaya Bali, Wayan Westa, menilai sudah saatnya masyarakat Bali menengok ulang teks-teks kuna warisan leluhur yang ada. Di sisi lain, jika mitos-mitos penjaga kesucian lingkungan Bali telah tergerus, maka penting mulai dipikirkan pembuatan mitos yang baru. “Pemerintah harus hadir dan membuat mitos yang baru. Mitos baru adalah regulasi yang nantinya bisa melindungi ekologi-ekologi Bali,” ujarnya. (ana)

Komentar