Biduran Jangan Digaruk

biduran jangan digaruk


Redaksi9.com - Menurut Dr. dr. IGN Darmaputra, Sp.KK., tidak ada perbedaan ras dan umur orang bisa terkena biduran, terbanyak pada kelompok umur 40-50 an. Hanya, pada biduran kronis lebih sering dialami kaum wanita  sekitar 60%.  Jadi, biduran ini bisa menyerang anak-anak maupun pada dewasa.

Biduran bisa terjadi di bagian tubuh mana saja, dengan bentuk dan ukuran yang beraneka ragam.  Dari yang berbentuk kecil-kecil seperti gigitan nyamuk atau besar dan terlihat seperti piring makan, bisa juga terlihat seperti cincin atau kelompok-kelompok cincin yang bergabung bersama. Bisa timbul dalam kelompok dan bisa berubah tempat hanya dalam hitungan jam. Bentol-bentol ini bisa juga timbul di wajah penderita dalam jumlah banyak, lalu hilang. Kemudian, akan timbul di lengan.  jika seseorang sudah tahu dirinya akan terjangkiti, dengan tanda muncul bentol-bentol pada kulit tubuh dan rasa gatal.

Ia menyarankan,  jangan digaruk. “Karena jika digaruk maka seseorang akan mengalami siklus gatal garuk. Jika bentol makin digaruk maka bahan aktif histamin akan makin banyak keluar dan yang terjadi justru bagian yang digaruk makin gatal dan muncul bentol yang sesuai bentuk garukan memanjang,” ujarnya.


Biduran juga bisa mengenai lapisan bawah kulit dan mukosa menyebabkan bengkak pada kelopak mata (bisa satu mata atau keduanya), bibir membengkak atau dikenal dengan istilah angioedema. Biduran yang disertai angioedema merupakan penyakit serius dan bisa menyebabkan kematian. Jika mengenai selaput lendir, gabungan biduran dan angioedema ini bisa menyebabkan  bengkak di sekitar  mukosa, seperti bengkak di daerah bibir. Jika terkena saluran napas, bisa mengakibatkan susah menelan dan sulit bernapas. Jika dibiarkan akan menyebabkan susah bernapas, sehingga menyebabkan kematian.


Ia mengatakan, penanganan biduran yang paling ideal adalah menghindari penyebab atau faktor pencetus agar tidak terjadi atau meminimalisir terjadinya biduran. “Cara menemukan faktor pencetus adalah dengan melakukan pemeriksaan penunjang. Beberapa pemeriksaan penunjang diperlukan untuk membuktikan penyebab biduran,” katanya.

Selain itu, pemeriksaan darah, air seni dan tinja rutin untuk menilai ada tidaknya infeksi yang tersembunyi atau kelainan pada organ dalam. Pemeriksaan imunologis seperti pemeriksaan kadar IgE, eosinofil dan komplemen. Tes kulit, walaupun terbatas kegunaannya dapat dipergunakan untuk membantu diagnosis. Uji gores dan uji tusuk dapat dipergunakan untuk mencari alergen penyebab. selain itu bisa dilakukan tes eliminasi makanan dengan cara menghentikan semua makanan yang dicurigai untuk beberapa waktu, lalu mencobanya kembali satu per satu.


Ia mengatakan, saat terjadi kekambuhan dapat diberikan antihistamine karena dapat mengontrol gejala bagi sebagian besar kasus. Namun, tidak dapat menghilangkan penyebabnya. Selain itu dapat diberikan kortikosteroid apabila  pengobatan dengan anti histamin saja tidak cukup. Obat-obat ini dapat mengurangi bengkak, kemerahan dan gatal, namun hanya diminum dalam jangka waktu sebentar saja karena mempunyai efek samping yang cukup serius.


Pengobatan lokal berupa bedak atau lotion yang mengandung menthol.  “Jika biduran merupakan tanda dari reaksi alergi yang lebih serius yang dapat mempengaruhi pernapasan dan fungsi organ lain, maka penderita  butuh pertolongan medis sesegera mungkin. Obat yang disebut epinefrin biasanya diberikan dengan cara suntikan,” paparnya.  


Namun, kadang biduran akan sembuh dengan sendirinya tanpa bantuan obat-obatan atau tak memerlukan kunjungan ke dokter. Untuk mengatasi biduran atau biduran, yang paling penting adalah menghindari faktor pencetusnya.(ira)

Komentar