Rangking Bukan Ukuran Hebatnya Anak

Eka Shanti Indra Dewi, Wakil KPPAD Provinsi Bali

Redaksi9.com - Kita baru saja melewati bulan Desember. Dan biasanya di bulan Desember, anak-anak  yang bersekolah ada jadwal penerimaan raport. Biasanya pada saat penerimaan raport, kita orang tua juga ikut degdegan menunggu hasil raport anak-anak. Dan kadang kita orang tua sering berekspektasi tinggi untuk nilai raport dan ranking anak-anak kita, sehingga sering kali itu jadi patokan sikap yang kita tunjukkan kepada anak-anak kita. Tidak sedikit orang tua yang kecewa lalu marah bahkan menghukum anak-anaknya jika nilai raport atau rankingnya tidak sesuai harapan. Adilkah itu untuk anak-anak kita?


Nilai raport dan ranking anak-anak kita di sekolah sesungguhnya merupakan cerminan upaya dari hasil pembelajaran anak-anak selama 1 semester, dan itu bisa dipengaruhi banyak factor. Kemampuan akademik setiap anak juga berbeda, karena setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Apapun hasil dari nilai raport anak-anak anda, saya ikut bahagia. Ijinkanlah saya memberi sudut pandang yang mungkin bermanfaat untuk kita semua.


Berhentilah anda memamerkan nilai raport atau ranking anak-anak anda khususnya di medsos. Yang terpenting dari pendidikan itu bukanlah ranking. Hakekat pendidikan itu adalah menjadikan anak anda :
- mencintai aktivitas membaca untuk mencari pengetahuan
- bisa berpikir logis
- tahu nilai-nilai yang benar dan salah
- mampu mengembangkan bakatnya, dan
- punya semangat juang untuk mewujudkan apa yang dia inginkan secara disiplin dan konsisten


Berhentilah anda menjadikan nilai raport dan ranking anak-anak anda sebagai kunci dari keberhasilan. Ketika kita menjadikan ranking sebagai bukti keberhasilan pada anak kita, dampak terbesar adalah pada titik itulah kita berfokus. Padahal pada kenyataannya tidak.
Saat anda mencintai membaca maka mereka menguasai banyak mengetahui pengetahuan tidak peduli apaah mereka punya ranking baik atau buruk
Saat anak anda bisa berpikir logis maka mereka akan mampu membangun visi dan impian mereka tidak bisa dinilai semester persemester untuk dibandingkan atara anak yang satu dengan yang lain.


Saat anak anda tau mana nilai yg benar dan mana yang salah maka mereka akan punya integritas.
Saat mereka mengenal bakat mereka yang sesungguhnya maka mereka akan mampu menghasilkan karya dan dedikasi yg terbaik.
Saat anak anda punya semangat juang maka itulah kunci sejatinya kesuksesan hidup.
Dan ini semua tidak bisa diranking.

Selain itu perlu diingat, bahwa kecerdasan itu ada banyak jenisnya, dan kecerdasan akademis hanyalah 1 macam kecerdasan, disbanding 14 jenis kecerdasan lainnya. Setiap anak atau orang itu istimewa dan unik, karena bisa jadi memiliki 1 macam kecerdasan yang lebih menonjol dibandingkan yang lain, dan bisa jadi bukan kecerdasan akademis semata.


Jika anda focus pada ranking juga maka anda akan kehilangan nilai-nilai yang hakiki dalam pendidikan. Klo anda harus kompromi dengan system pendidikan sekolah maka kompromi anda adalah usahakan agar anak anda selalu naik kelas dan bergairah menjalani aktivitas sekolahnya. Maknai nilai raport anak anda hanya sebagai salah satu indicator untuk tau mana titik lemahnya, mana titik unggulnya, dan progress kerjanya sehingga anda bisa tau di titik mana anda harus membantu anak anda. Sementara sisanya bantulah anak anda untuk cinta membaca, mampu berhitung secara logis, menemukan bakat/kelebihannya, mengajarkan kejujuran dan punya semangat juang panang menyerah.


Proses pendidikan dan pengajaran, adalah proses seumur hidup tidak adil bagi anak-anak anda hanya dinilai dari ranking yang diperolehnya semester ini atau semester yang lalu. Dorong saja anak-anak anda untuk tetap dan selalu bersemangat belajar di sekolah, namun tidak memaksakan hasilnya apalagi menghalalkan segala cara untuk meraih nilai atau ranking yang tinggi. (Eka Shanti  Indra Dewi, Wakil KPPAD Provinsi Bali)

 

Komentar