Sagung Rat Mudiani: Menari Panggilan Hati

Sagung menari Legong Keraton

Perempuan yang sudah tiga tahun memasuki  masa pensiun dari jabatannya sebagai Sekretaris Material Grand Hyatt Nusa Dua Bali ini, tetap ingin menari. Baginya, menari adalah hobi dan kebiasaan sejak kecil. Usianya kini sudah terbilang memasuki lansia.  Namun, semangat dan keceriaanya tak kalah dengan kaum muda. “Umur saya 57 tahun jalan,” kata perempuan bernama lengkap AA Sagung Rat Mudiani.

Sagung Rat Mudiani, terlahir dari  tujuh bersaudara, dengan lima perempuan. Ia bersama saudara perempuan lainnya sejak kecil sudah dilatih menari sang ibu, yang dikenal sebagai maestro tari Bali, Jero Gadung Arwati, asal Desa Bongan, Tabanan. “Saya mulai pentas menari ke hotel-hotel sejak kelas 4 SD,” istri I Gusti Jaya Sukarna ini.

Sagung begitu ia akrab disapa menuturkan, awal pentas menari, ia hanya dibayar Rp 6000. Namun, baginya, uang itu sangat berarti. Beberapa hotel sudah dijelajahinya, mulai dari hotel di Denpasar, Sanur, dan Kuta. “Dulu belum ada hotel di Nusa Dua. Yang terkenal dulu Bali Hotel (hotel Inna Denpasar), Puri Dalem, Besakih Cottages, dan Pertamina Cottage (Patra Jasa). Saya menari di banyak hotel, saking banyaknya saya sudah lupa,” ujarnya. Sagung  bersama saudara-saudaranya juga dipercaya menyambut tamu  dan menari di Bandara Ngurah Rai Denpasar.  Ketika, ia bekerja di Grand Hyatt Nusa Dua, Sagung juga dipercaya menari Bali dalam kegiatan-kegiatan hotel, seperti odalan, acara ulangtahun hotel, dan acara serikat pekerja mandiri Grand Hyatt Nusa Dua.

Walaupun, kini usianya sudah tak muda lagi, namun, Sagung tetap menari. Untuk menjaga agar gerakanya tetap lentur, ia rutin menari setiap sore sepulang kerja. Dengan bangga ia mengatakan, tak kalah dengan para penari yang masih muda. Sagung mengakui, tubuhnya memang tak lagi langsing seperti muda. Kini, ia merasa sudah agak gemuk. Namun, ia tetap mampu menari dengan lemuh (lentur). “Waktu ngagem, saya masih bisa nges, ga kaku. Itu semua karena latihan yang rutin saya lakukan,” kata Sagung.

Saat melihat ada pertunjukkan tarian, ia pasti dengan seksama menonton penarinya. “Saya sering melihat banyak penari asal menari, kurang semangat gerakannya,” kata Sagung.  Bahkan, ketika ia menari di hotel bersama para kaum muda, Sagung tetap menjadi pusat perhatian. “Banyak saya lihat penari itu kurang menghayati dalam menari. Mereka hanya asal menari yang penting gerakannya benar,” ujarnya.

Penari-penari zaman dulu, biasanya, kata Sagung, punya ritual tertentu. Mereka mempersiapkan diri sebaik mungkin dan rutin melakukan latihan. Bahkan, ada penari yang melakoni puasa tertentu. Gerakannya mampu “menghipnotis”  perhatian penonton. Bahkan, penonton sampai tidak menyadari  pertunjukkan sudah selesai, saking mereka terkesima. Begitulah, taksu tarian Bali, yang jika ditarikan dengan benar, akan mampu membuat orang yang menonton berdecak kagum.

Sagung sangat menyukai tari-tarian lawas seperti Tari Pendet, Tenun, Margapati, Oleg Tamulilingan, Wiranata, Teruna Jaya, Legong Keraton dll.  Menurutnya, tarian zaman dulu, lebih metaksu sehingga saat menarikannya terlihat lebih keluar auranya.

Sagung ingin tetap menari karena itu panggilan hatinya. Ia bersama Yayasan Kecantikan Salon Agung, sering pentas menari.  Sagung juga dipercaya biro perjalanan untuk turis Jepang mengajar menari tamu Jepang yang datang ke Bali. “Tamu Jepang tiap tahun belajar menari ke Bali. Saya dipercaya untuk mengajar,” kata Sagung.

Darah seni Sagung juga diwarisai putra-putrinya. Salah seorang putrinya  yang akrab disapa Jung Is juga seorang penari Bali. (ira)

Komentar