Kenali Gejala Obesitas Sejak Dini

kenali geja obesitas

Redaksi9.com - Obesitas pada anak sampai kini masih menjadi masalah kesehatan terutama di negara berkembang dan negara maju. Penyebab obesitas pada anak bersifat multifaktor. Demikian disampaikan Ahli Gizi dr. I Wyn. Gede Sutadarma,M.Gizi.


Ia mengatakan, obesitas merupakan penimbunan jaringan lemak di bawah kulit dan organ yang berlebihan dan tersebar di seluruh tubuh.  Obesitas pada anak, dipengaruhi juga oleh faktor keturunan yang terdapat pada keluarga yang orangtuanya juga mengalami obesitas. “Apabila salah satu orangtua mengalami obesitas, maka kemungkinan besar anaknya juga mengalami obesitas, dan peluang ini akan lebih besar lagi apabila kedua orangtuanya mengalami obesitas,” ujarnya.


Ia menegaskan, gaya hidup modern saat ini yang serba cepat dan instan, mempengaruhi pola makan anak menjadi tidak sehat, sehingga jenis makanan/minuman yang dipilih cenderung mengandung tinggi kalori.  “Kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji, makanan tinggi karbohidrat, lemak dan garam merupakan faktor risiko terjadinya obesitas. Selain itu, dengan berkembangnya teknologi terutama jenis permainan/games yang justru menyebabkan anak-anak menjadi lebih malas untuk berolahraga. Mereka lebih asyik menonton televisi dan bermain games,” katanya.


Hal lain yang berperan dalam obesitas anak,  yaitu memberikan makanan padat terlalu dini pada bayi. Selain makanan padat, pemberian susu formula sebagai pengganti makanan juga merupakan faktor risiko obesitas pada anak. Hal ini terjadi karena anak menerima kalori yang tinggi dari makanan tersebut. Kebiasaan mengonsumsi makanan dalam jumlah besar akan menjadi kebiasaan anak sampai dewasa.


Faktor psikologis, biasanya terjadi pada anak-anak yang sedang mengalami permasalahan terutama yang berkaitan dengan emosi, seperti stres atau kebosanan. Beberapa anak yang mengalami permasalahan psikologis cenderung mencari pelampiasan dengan banyak makan, sehingga bisa menimbulkan obesitas. Selain itu, interaksi antar anak-anak yang sudah mulai berkurang akibat kehidupan perkotaan yang lebih mementingkan diri sendiri, akan menyebabkan anak-anak lebih cepat bosan, sehingga salah satu cara menguranginya dengan mengonsumsi makanan/minuman ringan/makanan cepat saji sambil menonton hiburan. Ironisnya, kata dia, makanan ringan/makanan cepat saji mengandung kalori, lemak tidak jenuh, dan garam dalam jumlah tinggi.


Ia mengatakan, secara klinis obesitas pada anak dapat dengan mudah dapat dikenali karena adanya tanda dan gejala yang khas.  “Wajah membulat, pipi tembem, leher relatif pendek, dada mengembung dengan payudara yang membesar mengandung jaringan lemak, perut membuncit, pinggul dan pantat yang besar, kedua tungkai pada umumnya berbentuk X, adalah gejala khas obesitas pada anak,” jelasnya.


Komplikasi obesitas pada anak secara umum dapat dibagi dua yaitu gangguan fisik dan psikis. Sejalan dengan perubahan status gizi anak menjadi obesitas, telah terjadi beberapa keadaan yang mengikutinya seperti peningkatan kadar lemak darah, peningkatan tekanan darah, atau gangguan toleransi glukosa akibat resistensi insulin.Obesitas merupakan salah satu faktor risiko terjadinya penyakit degeneratif seperti diabetes melitus, penyakit jantung koroner atau stroke. Selain itu, obesitas pada anak juga memicu timbulnya penyakit asma dan gangguan tidur akibat penumpukan jaringan lemak pada leher dan dada yang mengganggu pernapasan. Pada jaringan hati, obesitas juga akan menimbulkan penumpukan lemak sehingga fungsi hati akan terganggu. Maturitas seksual juga mengalami perubahan dimana maturitas terjadi lebih awal akibat perubahan hormonal pada anak dengan obesitas. Gangguan psikis meliputi sering timbulnya perasaan rendah diri, gangguan konsentrasi belajar, sampai dengan depresi.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam manajemen terapi obesitas anak:
•    Tetap mempertahankan pertumbuhan normal.
•    Diet yang diberikan dengan komposisi karbohidrat 50-60% terutama golongan karbohidrat kompleks dan menghindari karbohidrat sederhana, komposisi protein 15-20% dengan protein nabati dan hewani seimbang, dan komposisi lemak 20-30% terutama golongan lemak jenuh kurang dari 10% dan kolesterol kurang dari 300 mg per hari.
•    Diet tinggi serat buah dan sayur, dianjurkan pada anak umur lebih dari 2 tahun dengan perhitungan dosis menggunakan rumus : (umur dalam tahun + 5) gram per hari.
•    Latihan fisik disesuaikan dengan umur anak, tingkat perkembangan motorik, dan kemampuan fisik. Dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik selama 20-30 menit per hari 3-5 kali per minggu yang dilakukan secara teratur.
•    Pada obesitas anak, diperlukan peran serta orangtua sebagai komponen terapi seperti :memantau secara mandiri terhadap berat badan, asupan makanan dan aktivitas fisik serta mencatat perkembangannya.
•    Terapi intensif diterapkan pada anak dengan obesitas yang berat dan yang disertai komplikasi yang tidak memberikan respon pada terapi konvensional, yang terdiri dari diet sangat rendah kalori, farmakoterapi, dan terapi bedah. (ira)

 

 

 

Komentar